View high resolution
My fave Disney Prince? I don’t like Princes, I choose Dimitri.
Guido Orefice - La Vita E Bella
The amazing Audrey Hepburn.
Bulan April ini sepertinya jadi masa-masa tersibuk, mengingat ada dua konser (ya, dua!) yang aku ikuti setelah sekian lama berusaha pensiun (akhirnya gagal juga). Pertama, konser Animé String Orchestra bertemakan rock orchestra, 9 April lalu. Yeah! Dan, yang kedua adalah konser ITB Student Orchestra bertajuk Da Capo: Glimpses To The Past. Setelah dua konser itu, otot punggungku sukses tegang-tegang, maklum harusnya udah pensiun malah diforsir. Dan, setelah sekian lama nggak mengalami demam panggung, akhirnya di kedua konser itu aku sukses merasakan sensasi telapak tangan basah lagi.

Seperti belum puas menghabiskan jatah cuti, 25 April lalu aku kembali cuti untuk ikut program Kelas Inspirasi yang digagas Bapak Anies Baswedan. Apakah itu? Intinya, para relawan dari kalangan profesional meluangkan satu hari untuk berbagi cerita dan inspirasi tentang profesi masing-masing kepada murid-murid SD yang mayoritas dari kalangan menengah ke bawah.
Kebetulan waktu itu aku dapat jatah ‘mengajar’ di kelas 2 s.d 6, masing-masing 40 menit alias 1 jam pelajaran. Awalnya sempet syok dan berpikir, “Ini ada angin badai dari mana kok aku bisa ngelamar jadi relawan? Padahal aku paling ga bisa ngajar, apalagi ngajar anak SD.” Rasanya ingin mundur, tapi malu-maluin amat udah disebut bolak-balik sama Pak Anies kalo ada Lighting Designer di sini. Oh… Perutku langsung mules.
Ternyata, there’s always a teacher lies within every person. Tak disangka, proses tersebut sangat lancar dan menyenangkan. Walaupun aku cuma menyusun presentasi dalam semalam dan berkoar-koar tanpa bantuan proyektor, ternyata anak-anak itu bisa menangkap maksud dari profesi Lighting Designer. Terutama yang kelas 5 dan 6, karena mereka memang sudah dapat materi yang cukup tentang cahaya.
Senang sekali rasanya melihat wajah-wajah sumringah mereka, dan mata-mata berbinar ketika melihat lampu-lampu aneh yang aku keluarkan dari ‘kantong ajaib’. Dan, yang paling menyenangkan adalah ketika aku bertanya di akhir sesi pertamaku (kelas 2 SD), “Jadi, sekarang siapa yang mau jadi Lighting Designer?” Seluruh murid mengangkat tangannya dengan semangat. Ketika aku kembali tanya, “Siapa yang mau bantu kakak beres-beres lampu?” Semua anak maju ke depan kelas dan berebutan merapikan peralatan yang terbelit-belit kabel itu.
Pengalaman satu hari itu sangatlah berharga, tidak hanya untuk anak-anak yang bisa mendapatkan inspirasi baru, tapi juga untuk para relawan. Setidaknya, program ini sangat berhubungan dengan harapanku bahwa anak-anak tidak lagi berkutat dengan profesi dokter, insinyur, atau (yang kemarin paling banyak ditemukan) pemain sepakbola. Harapanku, anak-anak Indonesia punya cita-cita yang lebih beragam dan berhasil mencapainya.
Aku juga berkesempatan mengintip tempat tinggal beberapa anak, yang rasanya kurang layak walaupun tidak juga mengenaskan seperti yang sering disorot di TV. Sementara, hanya beberapa langkah dari sana berdiri rumah-rumah mentereng dengan mobil-mobilnya yang mewah. Bahkan, ketika aku tiba di sana pukul 6 pagi, ada mobil Camry dengan plat RFS sedang nongkrong di sebuah rumah elit tersebut. Jakarta oh, Jakarta…
Untunglah anak-anak itu terlihat tetap ceria dan bersemangat, dengan cita-cita setinggi bintang di angkasa. Semoga tidak ada yang memutus harapan mereka untuk terus bersekolah, dan suatu saat akan berguna bagi bangsa dan negara.
View high resolution
Sharing simple idea to elementary students, making lamp shade from chopsticks. Even the teachers are amazed on how daily stuffs can be made into something fancy. I really hope there are more opportunities for us, designers, to improve creativity on young generations.
This lamp is currently placed in the library of SDN Cilandak Barat 19 Pagi, South Jakarta, after being re-made together by the 4th grade students.